Selamat datang di Alumni-Doepa. Official Forum Alumni Smpn 12 Tangerang Selatan. Media Sharing Siswa & Alumni SMPN 12 Tangerang selatan

Rabu, 02 Mei 2012

Tuhan Hilang…. Mana Aku Tahu



Waktu saya kelas 1 SD, guru agama saya bertanya, “Anak-anak siapakah yang membuat meja dan kursi ini?” Seluruh kelas menjawab, “Tukang kayu!” Pertanyaan berikutnya, “Siapa yang membuat mobil?” Secara serntak teman2 sekelas berteriak, “Pabrik mobil!” Lalu guru agama saya mengatakan bahwa apa-apa yang ada di dunia dan dapat kita lihat tentu ada yang membuat. Selanjutnya guruku bertanya lagi, “Lalu Siapakah Yang Membuat Bumi, Matahari, Bulan dan Bintang-Bintang di Langit?” Seluruh murid berteriak “Tuhan”
Itulah bentuk pendidikan dasar agama untuk menanamkan iman seseorang, untuk meyakini dan mempercayai Tuhan Sang Pencipta Alam itu ada. Namun, apakah penanaman dasar moral tersebut sudah maksimal dan menghasilkan perilaku yang sesuai ajaran agama?
Ada satu cerita menarik berhubungan dengan hal di atas. Ada seorang janda tua memiliki dua anak laki-laki. Anak yang tua di panggil Lae dan adiknya dipanggil Ucok. Kedua anak tersebut sangat nakal. Hobinya minum-minuman keras dan berjudi.

Kebadungan keduanya sudah terkenal di desa mereka. Setiap ada barang hilang, orang sekampung pasti tahu siapa yang mengambil. Kalau tidak keduanya, pasti teman-teman mereka. Ketika seorang warga desa kehilangan tas, ia lalu bertanya kepada Ucok tentang tasnya “Ucok, Tas ada dimana?” Ucok menjawab “Tas hilang….. mana aku tahu.” Ketika warga lainnya kehilangan cincin dan bertanya kepada Ucok tentang cincinnya, Ucok pun menjawab, “Cincin hilang….. Mana aku tahu”
Jawabannya selalu seperti itu kalau ada ada orang menanyakan barangnya yang hilang.
            Suatu hari ibu Ucok akan pergi ke pesta. Betapa terkejutnya ia karena perhiasannya sudah tidak ada. Usut punya usut, terbukti kedua puteranya yang mengambil perhiasan itu. Mereka menjualnya dan memakai uangnya untuk berjudi. Ibu Ucok putus asa atas kelakuan anak-anak nya. Ia pun berniat menitipkan anak-anaknya kepada pak Pendeta, dengan harapan mereka menjadi anak yang baik. Semula kedua anak itu protes, “Inang, mengapa Lae dan Ucok harus belajar pada pak pendeta?”  tapi tekad ibu mereka sudah bulat, dan tidak menggubris protes kedua anaknya.
            Sampai di rumah pendeta, mereka tampak malas dan ogah-ogahan. Pendeta pun memanggil Ucok ke dalam. Ia menasihati Ucok tentang ibunya yang sudah tua, yang harus selalu dijaga dan dihormati, dan menyampaikan petuah2 kehidupan lainnya. Namun,  Ucok tidak menggubris, ia hanya cengar-cengir, memainkan lubang hidungnya pula, sambil melengos pendeta pun beralih strategi, bercerita dengan pendekatan agama. Bahwa Tuhan satu, tapi bisa melihat kemana-mana, amat dekat dengan kita. Apapun yang kita lakukan, Tuhan pasti tahu. Tuhan ada dimana-mana. Perbuatan baik akan dicatat, juga yang buruk. Orang baik tempatnya di syurga dan seterusnya………..
            Apa yang dikatakan pendeta tetap tidak mengubah gaya dan ekspresi Ucok. Kemarahan pendeta pun tak tertahankan. Suaranya yang semula pelan dan welas asih berubah kasar. Pendeta pun bertanya dengan berteriak, “Ucok! Tuhan ada dimana?”
            Ucok terkejut mendengar teriakan  pak Pendeta, ia pun langsung berlari ke luar. Di luar kakaknya bertanya pada Ucok mengapa berlari dan menangis. Jawab Ucok, Pendeta marah, Ia menanyakan tuhan ada di mana?
Aku jawab, “Tuhan hilang…. Mana aku tahu.”

 








Itulah ucok yang suka mencuri. Ia alergi terhadap setiap pertanyaan dengan kata “Di mana”,  yang selalu ditanyakan kepadanya kalau ada barang yang hilang. Ucok menjadi paranoid. Orang-orang yang berperilaku buruk dan culas hanya peduli pada pekerjaan buruknya. Mereka tidak peduli pada apapun. Mereka menganggap Tuhan tidak ada karena tidak terlihat. Jadi mereka sama sekali tidak takut Tuhan.
            Dalam hidup ini, seharusnya setiap manusia menyadari dan meyakini bahwa:
Tuhan Sang Pencipta Alam itu ada. Tiada Tuhan selain Allah Swt. Tuhan itu ada dan terus-menerus mengurus makhluknya, tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaannya meliputi langit dan bumi, dan tidak ada yang bisa  membeir syafaat kecuali atas izin-Nya. Tuhan mengetahui apa yang ada di hadapan dan di belakang manusia, dan Manusia tidak mengetahui dari ilmu-Nya melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kekuasaan-Nya meliputi Langit dan Bumi, dan bagi Tuhan, Tidaklah berat memelihara kedua-Nya. Tuhan itu maha mengetahui, Maha mendengar dan Maha tinggi lagi Maha besar.”
            Percaya adanya Tuhan, percaya dengan segala kesempurnaan Tuhan itulah yang di sebut “Iman”. Tuhan memang ghaib, tidak nyata, Tetapi Tuhan mengawasi segala perbuatan manusia. Manusia culas dan berperilaku buruk lebih takut pada perbuatannya direkam CCTV. Padahal CCTV itu bisa rusak, sensitif terhadap cuaca, dan memiliki berbagai keterbatasan. Tetapi manusia bodoh lebih takut dengan CCTV dari pada takut kepada Allah Swt, Sang Pencipta Alam Semesta, Yang Maha mengetahui dan Yang Maha Sempurna
            Sebagai makhluk ciptaan Tuhan, termasuk diri saya, sudah selayaknya sadar bahwa Tuhan akan menghidupkan orang-orang yang mati. Artinya, kita akan mati dan tuhan akan menghidupkan kita kembali untuk menanyakan perbuatan kita atau meminta pertanggungjawaban kita semasa hidup. Dengan demikian, sesungguhnya kita tidak bisa mengatakan, “Ah…pemimpin kan sedang tidak ada dan tidak melihat," atau, “Ah….tidak ada orang yang lihat… bawahan tidak melihat…. ah rakyat juga tidak melihat.”  Karena tidak ada yang melihat dan tidak ada CCTV itulah orang-orang suka melakukan hal2 buruk. Orang lupa, memang benar tidak ada orang dan tidak ada CCTV, tetapi Tuhan maha mengetahui dan mencatat perbuatan manusia. Sebaiknya dalam hidup kita jangan sebodoh si Ucok, Tuhan Hilang mana aku tahu…

            “Sungguh, kamilah yang menghidupkan orang-orang mati. Dan kamilah yang mencatat apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka (tinggalkan). Dan segala sesuatu kami kumpulkan dalam kitab yang jelas (lauh mahfudz).” (Q.S. Yasin[36]:12).
“Dan aku melihat orang2 mati, besar dan kecil, berdiri di depan tahta itu. Lalu di buka semua kitab dan dibuka juga sebuah kitab yang lain, yaitu kitab kehidupan. Dan orang-orang mati di hakimi menurut perbuatan  mereka, berdasarkan apa yang tertulis di dalam kitab-kitab itu.” (Wahyu 20:12).
                “Semua yang di lihat Tuhan, Sang Raja, apa yang ada di antara langit dan yang di luar itu, ia menghitung kedipan kelopak mata manusia, seperti pemain dadu menghitung mata dadu, demikianlah ia menetapkan hukumnya.” (Vedha, IV 16:5)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar