Waktu saya kelas 1 SD, guru agama
saya bertanya, “Anak-anak
siapakah yang membuat meja dan kursi ini?” Seluruh kelas menjawab, “Tukang kayu!” Pertanyaan
berikutnya, “Siapa yang membuat
mobil?” Secara serntak teman2 sekelas berteriak, “Pabrik mobil!” Lalu guru
agama saya mengatakan bahwa apa-apa yang ada di dunia dan dapat kita lihat
tentu ada yang membuat. Selanjutnya guruku bertanya lagi, “Lalu Siapakah Yang Membuat Bumi,
Matahari, Bulan dan Bintang-Bintang di Langit?” Seluruh murid
berteriak “Tuhan”
Itulah bentuk pendidikan dasar
agama untuk menanamkan iman seseorang, untuk meyakini dan mempercayai Tuhan
Sang Pencipta Alam itu ada. Namun, apakah penanaman dasar moral tersebut sudah
maksimal dan menghasilkan perilaku yang sesuai ajaran agama?
Ada satu cerita menarik
berhubungan dengan hal di atas. Ada seorang janda tua memiliki dua anak
laki-laki. Anak yang tua di panggil Lae
dan adiknya dipanggil Ucok.
Kedua anak tersebut sangat nakal. Hobinya minum-minuman keras dan berjudi.
Kebadungan keduanya sudah
terkenal di desa mereka. Setiap ada barang hilang, orang sekampung pasti tahu
siapa yang mengambil. Kalau tidak keduanya, pasti teman-teman mereka. Ketika
seorang warga desa kehilangan tas, ia lalu bertanya kepada Ucok tentang tasnya
“Ucok, Tas ada dimana?” Ucok menjawab “Tas
hilang….. mana aku tahu.” Ketika warga lainnya kehilangan cincin dan
bertanya kepada Ucok tentang cincinnya, Ucok pun menjawab, “Cincin hilang….. Mana aku tahu”
Jawabannya selalu seperti itu kalau ada ada orang menanyakan
barangnya yang hilang.
Suatu hari
ibu Ucok akan pergi ke pesta. Betapa terkejutnya ia karena perhiasannya sudah
tidak ada. Usut punya usut, terbukti kedua puteranya yang mengambil perhiasan
itu. Mereka menjualnya dan memakai uangnya untuk berjudi. Ibu Ucok putus asa
atas kelakuan anak-anak nya. Ia pun berniat menitipkan anak-anaknya kepada pak
Pendeta, dengan harapan mereka menjadi anak yang baik. Semula kedua anak itu
protes, “Inang, mengapa Lae dan
Ucok harus belajar pada pak pendeta?” tapi tekad
ibu mereka sudah bulat, dan tidak menggubris protes kedua anaknya.
Sampai di rumah
pendeta, mereka tampak malas dan ogah-ogahan. Pendeta pun memanggil Ucok ke
dalam. Ia menasihati Ucok tentang ibunya yang sudah tua, yang harus selalu
dijaga dan dihormati, dan menyampaikan petuah2 kehidupan lainnya. Namun, Ucok tidak menggubris, ia hanya
cengar-cengir, memainkan lubang hidungnya pula, sambil melengos pendeta pun
beralih strategi, bercerita dengan pendekatan agama. Bahwa Tuhan satu, tapi bisa
melihat kemana-mana, amat dekat dengan kita. Apapun yang kita lakukan, Tuhan
pasti tahu. Tuhan ada dimana-mana. Perbuatan baik akan dicatat, juga yang
buruk. Orang baik tempatnya di syurga dan seterusnya………..
Apa yang
dikatakan pendeta tetap tidak mengubah gaya dan ekspresi Ucok. Kemarahan
pendeta pun tak tertahankan. Suaranya yang semula pelan dan welas asih berubah
kasar. Pendeta pun bertanya dengan berteriak, “Ucok!
Tuhan ada dimana?”
Ucok
terkejut mendengar teriakan pak Pendeta,
ia pun langsung berlari ke luar. Di luar kakaknya bertanya pada Ucok mengapa
berlari dan menangis. Jawab Ucok, Pendeta marah, Ia menanyakan tuhan ada di
mana?
Aku jawab, “Tuhan hilang….
Mana aku tahu.”
Itulah ucok yang suka mencuri. Ia
alergi terhadap setiap pertanyaan dengan kata “Di mana”, yang selalu ditanyakan kepadanya kalau ada
barang yang hilang. Ucok menjadi paranoid. Orang-orang yang berperilaku
buruk dan culas hanya peduli pada pekerjaan buruknya. Mereka tidak peduli pada
apapun. Mereka menganggap Tuhan tidak ada karena tidak terlihat. Jadi mereka
sama sekali tidak takut Tuhan.
Dalam hidup ini,
seharusnya setiap manusia menyadari dan meyakini bahwa:
“Tuhan Sang Pencipta Alam itu ada. Tiada Tuhan selain Allah
Swt. Tuhan itu ada dan terus-menerus mengurus makhluknya, tidak mengantuk dan
tidak tidur. Kepunyaannya meliputi langit dan bumi, dan tidak ada yang bisa membeir syafaat kecuali atas izin-Nya. Tuhan
mengetahui apa yang ada di hadapan dan di belakang manusia, dan Manusia tidak
mengetahui dari ilmu-Nya melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kekuasaan-Nya
meliputi Langit dan Bumi, dan bagi Tuhan, Tidaklah berat memelihara kedua-Nya.
Tuhan itu maha mengetahui, Maha mendengar dan Maha tinggi lagi Maha besar.”
Percaya adanya
Tuhan, percaya dengan segala kesempurnaan Tuhan itulah yang di sebut “Iman”.
Tuhan memang ghaib, tidak nyata, Tetapi Tuhan mengawasi segala perbuatan
manusia. Manusia culas dan berperilaku buruk lebih takut pada perbuatannya
direkam CCTV. Padahal CCTV itu bisa rusak, sensitif terhadap cuaca, dan
memiliki berbagai keterbatasan. Tetapi manusia bodoh lebih takut dengan CCTV
dari pada takut kepada Allah Swt, Sang Pencipta Alam Semesta, Yang Maha
mengetahui dan Yang Maha Sempurna
Sebagai makhluk
ciptaan Tuhan, termasuk diri saya, sudah selayaknya sadar bahwa Tuhan akan menghidupkan orang-orang yang mati. Artinya, kita akan mati dan tuhan akan menghidupkan kita kembali
untuk menanyakan perbuatan kita atau meminta pertanggungjawaban kita semasa
hidup. Dengan demikian, sesungguhnya kita tidak bisa mengatakan, “Ah…pemimpin kan sedang tidak ada dan tidak
melihat," atau, “Ah….tidak ada orang yang lihat… bawahan tidak
melihat…. ah rakyat juga tidak melihat.” Karena tidak ada yang melihat dan
tidak ada CCTV itulah orang-orang suka melakukan hal2 buruk. Orang lupa, memang
benar tidak ada orang dan tidak ada CCTV, tetapi Tuhan maha mengetahui dan
mencatat perbuatan manusia. Sebaiknya dalam hidup kita jangan sebodoh si Ucok, Tuhan Hilang
mana aku tahu…
“Sungguh, kamilah yang menghidupkan orang-orang
mati. Dan kamilah yang mencatat apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka (tinggalkan). Dan
segala sesuatu kami kumpulkan dalam kitab yang jelas (lauh mahfudz).” (Q.S.
Yasin[36]:12).
“Dan aku melihat
orang2 mati, besar dan kecil, berdiri di depan tahta itu. Lalu di buka semua
kitab dan dibuka juga sebuah kitab yang lain, yaitu kitab kehidupan. Dan
orang-orang mati di hakimi menurut perbuatan
mereka, berdasarkan apa yang tertulis di dalam kitab-kitab itu.” (Wahyu
20:12).
“Semua yang di lihat Tuhan, Sang
Raja, apa yang ada di antara langit dan yang di luar itu, ia menghitung kedipan
kelopak mata manusia, seperti pemain dadu menghitung mata dadu, demikianlah ia
menetapkan hukumnya.” (Vedha, IV 16:5)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar